Akibat wabah Yustinianus, Eropa kehilangan separo populasi. Sejarawan Barat memperkirakan wabah turut berpengaruh terhadap menurunnya kekuatan militer Kekaisaran Romawi
MENURUT info
dari www.worldometers.info/coronavirus/,
sampai kemarin (27/3/2020) virus Covid-19 sudah tersebar di 199 negara. Jumlah
orang yang terinfeksi sudah mencapai 532.150 orang. Yang wafat sudah mencapai
24.084 orang. Di Indonesia sendiri yang terinfeksi sudah mencapai 893 orang,
dan yang wafat akibat penyakit ini 78 orang.
Sesungguhnya
bukan baru pada tahun 2020 ini dunia dilanda wabah penyakit yang bersifat
global. Pada abad ke-21 saja, terjadi beberapa kasus wabah yang mendunia.
Bahkan wabah global yang juga disebabkan virus Corona pernah terjadi pada tahun
2003. Hanya saja saat itu wabah tersebut lebih populer dengan sebutan Severe
Acute Respiratory Syndrome (SARS), alias Sindrom
Pernafasan Akut Berat.
Seperti
wabah Covid-19 yang saat ini tengah berlangsung, wabah SARS juga bermula dari
RRC, tepatnya dari Provinsi Guangdong. Wabah muncul sejak November 2002 di
provinsi tersebut, namun karena ditutup-tutupi oleh pemerintah setempat, wabah
ini baru diketahui World Health Organization (WHO) pada bulan Februari 2003,
setelah terjadi kasus seorang pengusaha AS yang terinfeksi SARS wafat dalam
perjalanan dari RRC ke Singapura.
Badan
Kesehatan Dunia itu kemudian mengeluarkan peringatan global pada bulan Maret
2003 yang menyebabkan masyarakat dunia terkejut dan waspada. Wabah SARS sempat
menyebar ke beberapa negara lain, namun tidak seluas sebaran virus Covid-19.
Dari
laporan WHO, penyakit ini sempat menular ke 29 negara. Yang terbanyak di
Taiwan, Hong Kong, Singapura, dan Kanada. Penyakit ini juga sempat menginfeksi
Indonesia dengan jumlah pasien 2 orang. Wabah SARS mereda pada bulan Juli 2003
dengan jumlah orang terinfeksi secara keseluruhan 8.069 orang. Sedangkan yang
mengalami kematian sebanyak 775 orang. Tingkat fatalitasnya (jumlah
kematian per jumlah orang yang terinfeksi) sebesar 9,6%.
Selain
itu ada pula wabah flu burung. Wabah pertama terjadi pada tahun 1997, akibat
virus H5N1, menginfeksi 861 orang dan menyebabkan kematian hingga 455 orang di
18 negara. Tingkat fatalitasnya 52,8%. Wabah kedua terjadi pada tahun 2013,
akibat virus H7N9, menginfeksi 1.568 orang dan menyebabkan kematian hingga 616
orang di 3 negara. Tingkat fatalitasnya 39,3%.
Pada
tahun 2012 wabah sakit pernafasan melanda kawasan Timur Tengah. Wabah yang
diberi nama Middle East Respirator Syndorome (MERS)
ini bermula di Arab Saudi, kemudian menyebar ke 26 negara, menginfeksi 2.494
orang, dan menyebabkan kematian 858 orang.
Yang
lebih dahsyat adalah wabah flu babi pada tahun 2009. Penyakit yang disebabkan
virus H1N1 ini menginfeksi 1,6 juta orang dan menyebabkan kematian hingga
284.500 orang di 214 negara. Tingkat fatalitasnya 17,4%.
Flu Spanyol Asal China
Pada
tabel di atas, nampak wabah yang paling banyak menginfeksi orang adalah flu
babi, yakni 1,6 juta orang. Tiga kali lipat jumlah orang yang terinfeksi virus
Covid-19 hingga hari ini. Yang wafat akibat penyakit ini 10 kali lipat lebih
banyak daripada yang wafat akibat wabah Covid-19.
Wabah
yang terjadi pada tahun 1918 angkanya lebih spektakuler. Menurut situs www.history .com,
wabah yang disebut flu Spanyol itu telah menyebabkan kematiannya 50 juta
orang di seluruh dunia. Situs lain bahkan ada yang menyebut angka kematian
mencapai 100 juta orang.
Meski
disebut flu Spanyol, wabah ini tidak bermula dari Spanyol, namun bermula dari
daratan RRC. Wabah itu tersebar ke luar wilayah negeri itu ketika sejumlah
pekerja Cina yang terinfeksi virus dibawa ke Eropa melalui benua Amerika.
Mereka diangkut dengan kereta api melintasi Kanada, kemudian diangkut dengan
kapal ke Eropa. Selama dalam perjalanan itulah virus menginfeksi orang lain
hingga menyebar ke berbagai negara.
Surat
kabar New
York Times terbitan 4 November 2010 mengutip hasil penelitian
para ahli yang memperkirakan wabah ini bermula dari negeri Tiongkok. Yakni
ketika para tentara Mongol yang dipimpin Jani Beg menginvasi kota Kaffa
di Krimea (kini termasuk wilayah Ukraina) pada tahun 1347.
Rupanya
sebagian tentara Mongol ada yang mengidap penyakit itu sejak mereka berangkat
dari negerinya, hingga kemudian ada yang mati saat menjalankan ekspedisi
militernya. Sebelum itu penyakit pes sudah mewabah di Provinsi Hubei (tempat
bermulanya wabah Covid-19 pada tahun 2020) sejak tahun 1334.
Mayat-mayat
tentara Mongol yang mati karena penyakit pes itu kemudian dilemparkan oleh
temannya ke dalam Kota Kaffa melalui tembok benteng kota itu. Akibatnya para
penduduk kota Kaffa ikut terinfeksi dan terjangkiti penyakit pes. Celakanya,
ada sebagian penduduk itu pergi mengungsi ke daerah lain untuk menghindari
wabah itu tanpa sadar bahwa pada dirinya sudah terdapat kuman penyakit pes.
Dari
Kaffa wabah menjalar ke Genoa dan Venesia di Italia, kemudian menjalar ke
Spanyol dan Perancis, hingga akhirnya melanda hampir seluruh Eropa. Akibatnya
sepertiga penduduk Eropa tewas karena wabah penyakit itu. Yang selamat dari
wabah ini adalah penduduk desa yang tinggal di pegunungan serta daerah-daerah
yang tergolong sebagai daerah terpencil pada saat itu.
Kota
besar yang padat penduduknya adalah yang paling terdampak wabah. Paris
kehilangan 50% penduduknya. Hamburg dan Bremen di Jerman berkurang penduduknya
sebanyak 60%. Kota Florence di Italia berpenduduk 110 ribu orang pada tahun
1338, kemudian menyusut tinggal 50.000 ribu pada tahun 1351.
Catatan Ibnu Khaldun dan Ibnu Bathuthah
Wabah
pes juga menjalar ke Afrika bagian utara, India, serta Timur Tengah. Kota
Makkah ikut terkena wabah ini pada tahun 1349. Konon negeri Mesir sampai
kehilangan 40% penduduknya. Kota Kairo yang sebelum wabah berpenduduk
sekitar 500.000 orang kemudian menyusut tinggal 300.000 orang. Sultan Mamluk,
Al-Hasan, pada tahun 1348 sampai mengungsi dari Kairo ke Siyaqus, wilayah
pedesaan di timur laut Kairo, demi menghindari wabah.
Tunisia,
negeri kampung halaman Ibnu Khaldun (1332–1406) turut terkena wabah pes ini.
Setiap hari ada 1.200 orang yang wafat di Tunisia. Kedua orangtua dan sejumlah
guru Ibnu Khaldun turut kehilangan nyawa akibat wabah tersebut, sehingga
membuat cendekiawan Muslim ini sangat sedih. Sewaktu wabah berkecamuk, usianya
baru 18 tahun.
Sosiolog
Muslim terkemuka ini menuliskan pengalaman dukanya, “Ketika aku pada usia
meningkat lebih tinggi lagi, masaku berkembang mereguk ilmu
pengetahuan…tiba-tiba penyakit pes menyerang semua orang. Seluruh syaikh dan
kedua orangtuaku—semoga Allah merahmati mereka—wafat oleh wabah penyakit
tersebut…”
Ketika
wabah sedang merajalela di Timur Tengah pada tahun 1348, Ibnu
Bathuthah tengah berada di Aleppo, Suriah. Ia mendapat kabar
dari musafir dari selatan, bahwa wabah sedang melanda Gaza. Setiap hari ada
lebih dari 1.000 orang yang mati. “Apabila korban mulai meludahkan darah dan
menampakkan gejala radang paru-paru, biasanya dia akan mati dalam beberapa
jam,” tulis Ibnu Bathuthah.
Ketika
Ibnu Bathuthah pergi ke Palestina, dia berjalan melewati desa-desa yang sudah
tidak berpenghuni lagi karena ditinggal mati penduduknya. Akhirnya dia tiba di
Gaza dalam keadaan hampir tak berpenghuni lagi, karena hanya sedikit orang
selamat dari wabah itu.
Pada abad ke-17, wabah penyakit pes kembali terjadi Eropa. Pada tahun 1629-1631 wabah melanda Italia. Seperti pada kasus wabah Covid-19, wabah di negeri ini pada abad ke-17 juga mulai berjangkit wilayah Lombardia yang terdapat di Italia bagian utara. Milan, ibu kota wilayah Lombardia, mengalami penyusutan jumlah penduduk, dari 130.000 menjadi tinggal 70.000.
Wabah pes juga kembali berjangkit di Inggris dengan jumlah korban yang cukup banyak. Di London saja yang tewas sebanyak 100.000 orang, atau sekitar 20% dari penduduk London saat itu.
Pada tahun 1679 wabah pes melanda Wina, Austria, menewaskan 76.000 orang. Kemudian menjalar ke Praha, Ceko, hingga menewaskan 83.000 jiwa.
Wabah Yustinianus
Wabah yang lebih dulu terjadi pada abad ke-6 , melanda wilayah Kekaisaran Romawi, Kekaisaran Persia, dan kota-kota pelabuhan di Laut Tengah. Wabah ini mulai merajalela sekitar 30 tahun sebelum kelahiran Nabi Muhammad ﷺ, tepatnya pada tahun 541. Wabah berlangsung lama, hingga berlangsung selama dua abad, dan menewaskan lebih dari 25 juta orang.
Kaisar Romawi saat itu, Justinianus, termasuk orang yang terkena wabah tersebut, namun tidak sampai menemui kematian. Karena itu wabah tersebut kerap disebut sebagai Wabah Yustinianus.
Akibat Wabah Yustinianus ini Eropa kehilangan separo populasinya. Para sejarawan Barat memperkirakan wabah tersebut turut berpengaruh terhadap menurunnya kekuatan militer Kekaisaran Romawi sehingga mereka dikalahkan oleh pasukan Muslim dari Arab dalam perebutan wilayah Syam.
Penutup
Ross E. Dunn, sejarawan dari Universitas San Diego, dalam bukunya Petualangan Ibnu Bathuthah, Seorang Musafir Muslim Abad 14 menulis, “Wabah telah mengubah kebiasaan masyarakat. Mereka menjadi lebih rajin shalat dan berdoa.”
Begitulah tabit manusia. Ketika dalam kondisi sulit, menjadi lebih mendekat kepada Tuhan, sebagaimana Allah Ta’ala jelaskan dalam kitab suci-Nya:
وَإِذَا مَسَّ النَّاسَ ضُرٌّ دَعَوْا رَبَّهُمْ مُنِيبِينَ إِلَيْهِ ثُمَّ إِذَا أَذَاقَهُمْ مِنْهُ رَحْمَةً إِذَا فَرِيقٌ مِنْهُمْ بِرَبِّهِمْ يُشْرِكُونَ
“Dan apabila manusia ditimpa oleh suatu bahaya, mereka menyeru Tuhannya dengan kembali (bertaubat) kepada-Nya. Kemudian apabila Dia memberikan sedikit rahmat-Nya kepada mereka, tiba-tiba sebagian mereka menyekutukan Allah.” (Ar-Ruum [30]: 33).
Semoga wabah yang tengah berkecamuk saat ini menyadarkan kita bahwa manusia adalah makhluk yang lemah, mudah ditaklukkan oleh makhluk sangat kecil bernama virus. Manusia butuh perlindungan dan pertolongan-Nya. Maka sudah selayaknya manusia tunduk dan patuh kepada Allah, di saat ada wabah ataupun tidak.*/Saiful Hamiwanto




Tidak ada komentar:
Posting Komentar